Di dalam bulan Ramadhan ada satu malam yang dimana malam itu lebih baik daripada seribu bulan, malam dimana segala dosa terampuni, dan malam turunnya para malaikat. Malam itulah yang sangat kita rindukan, malam yang kita gadang-gadang kehadirannya. Ya, malam apalagi kalau bukan malam al-Qadr atau Laylah al-Qadr.
Arti Laylah al-Qadr
Laylah artinya malam, dan Qadr artinya kemuliaan. Laylah al-Qadr berarti malam yang mulia. Kenapa malam itu mulia?Diantaranya karena malam itu malam diturunkannya Al-Qur’an. Kata Qadr juga berarti pengaturan, karena Allah SWT mengatur strategi Nabi-Nya agar mengajak umatnya ke jalan yang benar. Atau Qadr bisa juga diartikan ketetapan artinya pada malam itu perjalanan makhluk hidup (manusia) ditetapkan.
Mengutip dari tulisan M. Quraish Shihab dalam bukunya lentera hati beliau mengungkapkan bahwa acap kali kehadiran Laylah al-Qadr dikaitkan dengan tanda-tanda alamiah, padahal hal tersebut tidak mempunyai dasar yang dipertanggungjawabkan. Yang jelas adalah bagi orang yang menemuinya akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan.
Bagaimana kehadiran Laylah al-Qadr?
Lalu bagaimana kita bisa menemui Laylah al-Qadr? apakah kita hanya perlu menunggu kehadirannya, toh yang pasti itu terjadi pada malam hari bukan. Sebagaimana banyak riwayat hadits, Nabi SAW menyatakan bahwa kehadirannya terjadi pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Terutama pada malam-malam ganjil, berarti tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan. Apakah Pasti pada tanggal-tanggal tersebut? Belum, para ulama menganjurkan agar kita menyiapkannya sejak awal Ramadhan. Sebab datangnya malam itu tidak pasti, maka ulama menganjurkan agar menjemputnya dari awal Ramadhan.
Nabi SAW menganjurkan umatnya untuk berusaha menemuinya. Tentu saja cara menemuinya adalah dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil menyadari dosa dan kelemahan kita. Hal itu dilakukan dengan sadar, ikhlas dan berkesinambungan agar bisa merasakan kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan jiwa, dan mampu mengubah jiwa manusia ke arah yang positif.
Mendekatkan diri kepada Allah SWT bisa dilakukan diantaranya meninggalkan segala perbuatan maksiat sebagaimana meninggalkan makan dan minum pada bulan Ramadhan, sholat berjamaah -terutama Maghrib, isya, dan Subuh-, lalu tidak meninggalkan sholat tarawih sepanjang bulan Ramadhan.
Beribadah dilakukan dengan sadar, ikhlas dan berkesinambungan. Ketika seseorang sudah memperoleh kesadaran rohani itu, maka sikap dan pandangan hidupnya akan berubah. Ia sedang menata, menetapkan dalam hidupnya untuk selalu berperilaku baik. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya ia akan menemukan kedamaian serta kesejahteraan jiwa. Terus malaikat akan turun untuk membimbing dan mendorongnya melakukan kebaikan-kebaikan dan menghindari larangan-larangannya.
Tanda-tanda itulah yang pasti ditemukan pada Laylah al-Qadr. Yakni, kedamaian hati pada diri dan pihak lain, disertai bertambahnya kebaikan-kebaikan dan dorongan dari malaikat. Semoga kita bisa bertemu dengannya. Aamiin. Wallahu a’lam.









