LP2M Corong – 31 Mei 2025 — Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo menggelar acara akbar bertajuk Halaqah Ilmiah dan Ijazah Kubro yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pesantren dan Aswaja. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu pagi, pukul 10.00 WIB ini bertempat di Masjid Al-Mahrus, kompleks kampus UIT Lirboyo. Acara ini dihadiri oleh seluruh civitas akademika dan mahasiswa UIT Lirboyo, serta sejumlah tokoh penting dari dalam dan luar negeri.
Yang menjadi magnet utama dalam acara ini adalah kehadiran ulama besar dari Sudan, Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli, yang hadir sebagai pemateri utama. Beliau juga memimpin doa penutup dalam kegiatan ini. Dalam penyampaiannya, beliau membahas dua topik utama mengenai tasawuf: pengertian tasawuf dan posisinya dalam Islam.

Asy-Syaikh Awad Karim menjelaskan bahwa tasawuf adalah metode spiritual yang bertujuan membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa tasawuf bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam, melainkan merupakan bagian integral dari agama. Ia mengutip hadis tentang pertanyaan Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW mengenai iman, Islam, dan ihsan, seraya menjelaskan bahwa akidah mewakili dimensi iman, fikih mewakili dimensi Islam, dan tasawuf mewakili dimensi ihsan.
Acara tersebut juga dihadiri oleh KH. Abdullah Kafa Bihi selaku Ketua Senat UIT Lirboyo, serta Rektor UIT Lirboyo, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.Pd., yang memberikan sambutan pembukaan. Dalam sambutannya, KH. Reza menekankan pentingnya sanad keilmuan sebagai salah satu ciri khas metode pembelajaran para ulama salaf. “Sanad adalah bagian dari agama,” tegasnya, mengutip perkataan ulama klasik. Ia juga mencontohkan perjalanan intelektual pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim, yang menempuh perjalanan panjang dalam menuntut ilmu dan berguru kepada banyak ulama.
Salah satu poin penting dari acara ini adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara pihak UIT Lirboyo dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dari Sudan. MoU ini diharapkan dapat menjadi jembatan penguatan hubungan akademik dan keagamaan antara Indonesia dan Sudan, khususnya dalam pengembangan studi Islam berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah.

Dalam sesi penyampaian materi, Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli juga menyampaikan bahwa setiap disiplin ilmu dalam Islam memiliki orientasi keimanan, keislaman, dan keihsanan. “Ilmu akidah berorientasi pada keimanan, ilmu fikih berorientasi pada keislaman, dan ilmu tasawuf adalah yang berorientasi pada ihsan,” paparnya. Beliau menekankan pentingnya keseimbangan dalam mempelajari ketiganya demi tercapainya kesempurnaan beragama.
Momen istimewa ini tidak hanya menjadi ajang penguatan keilmuan, tetapi juga ajang spiritualitas dan silaturahmi. Penyampaian materi disampaikan secara fasih dan menyentuh, dibantu oleh penerjemah pribadi beliau yang juga merupakan salah satu muridnya.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah antara seluruh peserta, tokoh undangan, dan pemateri. Suasana hangat dan penuh kekhidmatan menyelimuti akhir acara, memperlihatkan betapa penting dan berkesannya momen ini bagi civitas akademika dan mahasiswa UIT Lirboyo.
Dengan kehadiran ulama internasional seperti Asy-Syaikh Awad Karim Al-Aqli, UIT Lirboyo kembali menegaskan perannya sebagai pusat keilmuan Islam yang terbuka, progresif, dan tetap berpegang pada akar tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah. Semangat keilmuan dan spiritualitas yang ditanamkan melalui halaqah ini diharapkan terus tumbuh dan memberi pengaruh positif dalam pengembangan pendidikan pesantren dan perguruan tinggi.
Photografer : Khenyo, Arifin
Penulis : Rose, Ubed, Afnia.
Editor : Jamalulel







