Simpang Siur KTM, ATM dan Kartu Perpustakaan
LP2MCORONG—“Lucu ya, presiden mahasiswa nggak punya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)”. Keluh salah satu Mahasiswa Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri (UIT) semester delapan yang sampai berita ini ditulis masih belum mendapatkan fasilitas KTM dari kampus.
Kartu Tanda Masiswa merupakan kartu identitas resmi yang menandakan status seseorang sebagai mahasiswa di suatu perguruan tinggi. KTM adalah salah satu bentuk fasilitas yang disediakan oleh kampus kepada mahasiswa sebagai tanda bahwa dia telah menjadi bagian dari keluarga besar mahasiswa. Dalam KTM isinya akan memuat data pribadi mahasiswa, diantarnya adalah nama, nomor induk mahasiswa (NIM), program studi, fakultas, dan foto.
KTM mempunyai fungsi penting dalam keseharian mahasiswa dengan berbagai fungsinya. Pertama, KTM berfungsi sebagai alat akses ke berbagai fasilitas kampus, seperti perpustakaan yang memungkinkan mahasiswa untuk memanfaatkan sarana pendidikan dengan mudah.
Selain itu, KTM berperan sebagai alat verifikasi identitas dalam berbagai kegiatan akademik dan non-akademik, seperti saat mengikuti kegiatan perlombaan dan kegiatan keorganisasian. KTM diperlukan untuk memastikan bahwa orang yang bersangkutan dapat diverifikasi dengan tepat.
Beberapa perguruan tinggi juga telah mengintegrasikan fungsi KTM dengan ATM, sehingga mahasiswa dapat menggunakan kartu ini untuk melakukan transaksi dibank, swalayan, atau tempat pembayaran uang lainya. Hal ini membuat proses pembayaran yang dilakukan oleh mahasiswa menjadi lebih praktis dan efisien.
Tidak hanya itu, KTM juga memberikan keuntungan dalam bentuk diskon di berbagai tempat, seperti toko buku, tempat makan, tempat sarana transportasi umum dan lainya, sehingga mahasiswa dapat menikmati berbagai manfaat tambahan tersebut.
Lebih lagi, dengan adanya KTM maka akan dapat meningkatkan keamanan di lingkungan kampus, memastikan bahwa akses ke fasilitas tertentu hanya dapat dilakukan oleh pihak yang berwenang.
Akan tetapi fakta yang terjadi dikampus, khususnya Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri (UIT) fasilitas tersebut belum terealisasi dengan baik, terdapat mahasiswa yang belum mendapatkan KTM, bahkan tidak mengetahuinya sama sekali. Alhasi tim Lp2m Corong mencoba untuk mancari tahu lebih lanjut terkait hal tersebut.
Sebelumnya, Tim mencoba melihat dari brosur yang setiap tahun diedarkan dari kampus sebagai sarana promosi. Hal ini untuk memastikan bahwa di kampus UIT menyediakan fasilitas KTM. dalam brosur terdapat tertuliskan bahwa KTM yang sebagian dijadikan satu dengan ATM tertera dengan biayaya yang dibayarkan ketika melakukan pendaftaran ulang oleh mahasiswa baru. Alhasil seharusnya setiap mahasiswa mendapatkan fasilititas tersebut.
Setelah itu, tim mencoba melihat fakta di lapangan dengan mewawancarai mahasiswa UIT yang berjumlah dua belas dari berbagai macam semester dan program studi. Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan menjadi empat bagian. Pertama, Mahasiswa berinisial ZA dan DJ yang berada di semester dua mengeluhkan bahwa mereka belum menerima KTM meskipun telah mengikuti instruksi dari kampus untuk mengisi berbagai brosur yang disediakan
Kedua, mahasiswa berinisial BT, NN, dan RF dari semester empat sudah menerima KTM, namun mereka bingung karena KTM tersebut memiliki keterbatasan akses, yaitu hanya berfungsi sebagai kartu identitas dan kartu perpustakaan tanpa fasilitas pembayaran. Selanjutnya, mahasiswa berinisial NQ, SN, NK, dan NN dari semester enam juga mendapatkan KTM dengan akses terbatas, hanya sebagai kartu identitas tanpa fungsi sebagai kartu perpustakaan dan fasilitas pembayaran. Selain itu, mereka harus menunggu hingga tiga bulan untuk pembuatannya dan dikenakan biaya tambahan. Terakhir, mahasiswa berinisial OI, BK, dan AA dari semester delapan belum menerima KTM sejak semester awal.
Setelah mendapatkan data keluhan tersebut, tim berusaha mengonfirmasi kepada pihak yang bersangkutan di kampus UIT, yakni staf perpustakaan. Alhasil, Staf Perpustakaan UIT menyampaikan bahwa KTM sebagai identitas dan kartu perpustakaan saat ini telah digabung menjadi satu, dan tidak ada biaya ulang untuk pembuatan kartu tersebut. Namun, memang proses pembuatan KTM mengalami berbagai kesulitan teknis, terutama pada tahun 2023, ketika pembuatan kartu dikelola oleh kantor pusat yang bekerja sama dengan Bank BSI. Kerja sama ini bertujuan untuk mengintegrasikan KTM dengan ATM, namun kendala teknis menghambat pelaksanaannya, sehingga KTM dengan ATM tak kunjung terealisasi.
Untuk mengatasi masalah ini, perpustakaan memberikan solusi bagi mahasiswa angkatan 2021, 2022, dan 2023 yang belum mendapatkan KTM, dapat membuatnya di perpustakaan belakang UIT. Meskipun beberapa mahasiswa angkatan 2022 dan 2023 sudah memiliki KTM (dengan akses terbatas hanya untuk identitas saja), mereka akan mendapatkan kartu baru (KTM dengan akses identitas dan perpustakaan). Sedangkan angkatan 2020 dapat membuat KTM di perpustakaan depan dahulu baru ke perpustakaan belakang. “… Jadi temen-temen mahasiswa yang belum punya kartu KTM daftar kesini (keperpustakaan-reed) semuanya…” Ujar salah satu Staf Perpustakaan UIT.
Pembuatan KTM di perpustakaan dimulai setelah ujian akhir semester dan akan memakan waktu maksimal dua minggu setelah mahasiswa tersebut mendaftarkan diri. Pendaftaran KTM dapat dilakukan melalui offline maupun online melalui WhatsApp 085749222657 (Bapak Rifan).
Dari jawaban Staf Perpustakaan tersebut, tim mendapatkan kesimpulan bahwa keluhan mahasiswa yang belum mendapatkan KTM sebagai identitas ataupun kartu perpustakaan sudah mendapatkan jawaban. Namun, terkait dengan fasilitas KTM sebagai sarana pembayaran (KTM integrasi dengan ATM) sebagaimana tertuliskan dalam brosur, belum mendapatkan jawaban. Alhasil, tim melanjutkan wawancara dengan pihak yang bersangkutan di kampus UIT, yakni Ketua BAUAK. Dari hasil wawancara tersebut, tim mendapatkan jawaban bahwa belum ada solusi untuk pembuatan ATM karena kampus hanya selalu mengingatkan dan mengharapkan dari pihak Bank BSI untuk segera menyelesaikan hal ini. “Kalau untuk mewujudkan ATM saya belum bisa, tapi kalau membutuhkan KTM saya persilahkan” Ujar Khanif, selaku ketua BAUAK UIT.
Agus Pratama, presiden mahasiswa UIT tahun 2022-2023 terkait KTM ini mengatakan “Kultur yang masalah KTM tidak penting di (kampus) Tribakti itu harus dihilangkan, karena ya, sebagian orang sih kuliah itukan dinomor duakan, apalagi kita Tribakti yang mayoritasnya pondok, jadi kayak atrribute segala itu (dirasa-reed) kurang penting, padahal KTM itu sangat penting, jadi harapan saya kedepanya semoga kedepanya Tribakti itu langsung ketika (ada-reed) mabanih (mahasiswa baru-reed) kandapet fasilitasnyakan almamater, itu sudah diselipin sama KTM, jadi harus sudah jadi, tidak perlu mahasiswa itu dateng mencari sana sini…”
Reporter : Dwi Nurhasanah dan Sokhikhul Fahmi Al Qoyyid
Editor : Jamal







