Chapter 02
Kini Allesha menjalani hari-hari seperti biasa. Ada senang, ada susah, ada sedih. Tapi itu semua ia simpan seorang diri, karena memang tak ada yang peduli dengannya. Antara tak peduli atau tak mengerti cara meresponnya. Memang pada dasarnya pernikahan yang tidak ada kesiapan matang berakhir anak yang menjadi korban.
Seperti yang Allesha alami saat ini. Memendam sakit hati karena dibandingkan oleh kakak juga teman-temannya dalam diam. Apa yang bisa dilakukan oleh gadis kecil sepertinya jika dibandingkan? Orang-orang selalu berfikir membandingkan anak dengan anak orang lain, agar si anak dapat terinspirasi. Tapi nyatanya itu hanya akan menumbuhkan rasa iri, juga benci terhadap orang yang telah dibandingkan dengannya.
“Kok kamu nggak bisa-bisa si? Susah banget kamu diajari. Mau kamu apa si? Pusing Ibu ngadepin kamu,” Ujar Sari, Ibu Allesha. Ia benar-benar kualahan menghadapi anak bungsunya.
“Aku capek belajar terus.” Jawab Allesha, dengan menitipkan airmata. “Capek-capek, cuma belajar gitu aja capek. Tapi kalo main nggak capek, liat kakakmu pulang sekolah belajar, terus sore lanjut ngaji, terus pas selesai ngaji, lanjut belajar lagi bisa, kenapa kamu nggak bisa kayak gitu?. Yaudahlah terserah kamu mau apa, ibu nggak peduli.” Sargah sang Ibu.
Itulah yang terus Allesha dengar dari orangtuanya. Bukan hanya orang tua, bahkan kerabat juga tetangga pun selalu membandingkannya dengan sang kakak atau teman-temannya.
“Anak kayak dia pasti gedenya gk jelas idupnya, liat aja nanti.”
“Iya bener, beban banget pasti punya anak kayak dia.”
Begitulah kira-kira kalimat yang terlontar untuk Allesha.
Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini Allesha telah tumbuh remaja, tumbuh seorang diri lebih tepatnya. Allesha yang telah remaja tumbuh menjadi gadis yang cukup judes, tapi juga ceria, suka bicara yang tak berfaedah. Tapi ketahuilah itu semua ia lakukan untuk menutupi lukanya, untuk menutupi kesedihanya. Ditambah lagi, tepat satu bulan lalu orang tuanya bercerai. Semakin lengkap lah luka batinnya.
Allesha bingung apa yang harus ia lakukan! Dua bulan lagi ujian sekolah, sedangkan SPP nya sudah menunggak tiga bulan. Ia tak bisa bekerja karena masih sekolah, juga pasti dilarang oleh orang tuanya.
Dalam kebingungan juga banyaknya fikiran, Allesha rebahan dengan bermain ponsel, mengotak-atik sosial medianya, berharap menemukan solusi meski sangat kecil kemungkinannya.
Selang beberapa menit ia pun teringat akan beberapa teman juga banyaknya pengikut disosmed nya. Ia pun terfikirkan untuk membuat sebuah informasi disalah satu sosial medianya.
Hai guys… Apa ada rekomendasi kerja untuk pelajar? Aku membutuhkan secepatnya!
Tak butuh waktu lama cuitan yang Leviza bagikan mulai ramai komentar dari folowers juga teman-teman di sosmednya. Mulai dari normal hingga tak normal sekalipun.
@tae.y0ung_basourat7 kl buat pelajar bs nya online, kek freelance contohnya.
@pacar_jihoon68 cb freelance nder, gua baru join nih kebetulan. Ad bnyk plhn jg.
@b4by.c1m0l coba gurunya dirayu aj, sapa tau dapet keringanan🤭
@naylove @sie_sie katanya lg cari pekerja online
@sie_sie sini beb, bantuin aing kerja
@jisung_tpbukan.jisung cb jadi dancer kpop nder
@daddy_sam Come here baby, Daddy here! you need how much will daddy give
@zeeennnn_10 pesugihan ae gk si? Ntar tumbalnya si Rajen
@ra_j3n127 membalas @zeeennnn_10 lu duluan yg gua jd in tumbal, tumbal proyek.
@ra_j3n127 sini yang… ku tf, tapi nanti malem temenin AA’ keBar ya😏
Begitulah kira-kira isi komen dari postingan Allesha. Dan akhirnya Allesha memutuskan untuk menghubungi Siera, teman online nya, yang langsung saja diterima bekerja sebagai admin olshop. Cukup mudah, tapi juga melelahkan, terutama dibagian mata. Hampir seharian penuh ia berhadapan dengan ponselnya.
Allesha terus sekolah dengan bekerja online. Ia gunakan gajinya untuk biaya sekolah juga ia tabung untuk kuliah nanti. Beginilah nasib anak bungsu yang tumbuh seorang diri, ayah yang lupa akan kewajibannya jika tak diingatkan. Ibu yang hanya berkerja sebagai ART, gaji pas-pasan. Tapi itu bukan lagi masalah besar bagi Allesha. Ia tetap menjalankan hidup seadanya. Dan ya… Karena dia sudah memiliki penghasilan, jadi ia pun mulai melakukan sesuatu yang ia sukai, seperti dance & beladiri. Diam-diam ia berlatih dance juga beladiri dengan teman-teman online nya, ketika mereka bertemu secara langsung. Kebetulan beberapa temannya seorang atlet beladiri juga beberapa ada yang dancer.
Semua Allesha jalani, meski masih ada luka dihatinya. Tapi itu semua mulai berkurang sejak Allesha memiliki teman baru disosmed. Tak terasa kini ia sudah lulus SMA. Dikarenakan uang tabungannya tak cukup untuk biaya kuliah, ia pun memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Ditambah ia juga harus lebih banyak belajar lagi agar mendapatkan beasiswa. Manusia istimewa seperti Allesha ini memang harus sabar, dan banyak belajar juga bimbingan agar dapat setara dengan yang lain.
Saat SMA barulah ia sadar betapa pentingnya belajar. Namun karena minimnya informasi juga edukasi, alhasil Leviza tertinggal dari teman-temannya. Sebenarnya ia sama seperti anak lain, dia cerdas, juga memiliki kelebihan. Hanya saja orang tua juga lingkungan yang tidak bisa melihat kelebihannya. Bagi mereka pintar juga cerdas itu hanya berpatok pada akademic saja, mereka yang malas belajar akademic itu bodoh. Padahal tidak.
Dan selain itu, yang perlu kalian tahu, dan ingat. Setiap orang itu berbeda mereka memiliki warna kehidupannya sendiri. Alih-alih membandingkan juga merasa iri. Lebih baik bercerminlah, dan tanyakan pada dirimu sendiri ‘apa yang dirimu inginkan?’ jika sudah menemukan jawabnya, berjuanglah untuk mewujudkan. Selagi masih bernafas, teruslah berjuang untuk mewujudkan apa yang kau inginkan.
Satu tahun berlalu, uang hasil dari Allesha bekerja secara online maupun secara fisik (offline) telah terkumpul. Selain itu ia juga lulus tes masuk perguruan tinggi, ia diterima di Universitas Papua. Di Pulau cendrawasih itu, bukan hanya kuliah, Allesha juga bekerja disana. Kebetulan sepupu juga beberapa teman online nya ada yang tinggal di Pulau bahkan di Kota yang sama dengannya.
Allesha melakukan semua yang ia sukai, yang ia bisa kerjakan, yang ia sanggupi. Mulai dari menjadi dancer ketika ada konser idol K-pop, menjadi pengembala di peternakan milik Siera, temannya. Menjadi baby sitter untuk anak dari Siera atau Navya, menjadi pelayan sementara dirumah salh seorang teman kampusnya. Apapun itu, selagi ada uang, selagi ia dibayar, selagi ia mampu dan memiliki waktu, ia akan melakukan pekerjaan itu. Asal tidak menjual diri saja.
Selain bekerja Allesha juga mulai berinvestasi, ntah itu investasi di saham atau pun emas. Hanya investasi kecil, setidaknya dapat meringankan sedikit bebannya. Ia berinvestasi agar ketika ia tua kelak, hidupnya makmur tanpa beban. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk ibunya. Bukankah semakin lama ibunya semakin tua dan tak sanggup lagi bekerja? Jika tidak segera berkerja, dan investasi bagaimana hidup ibunya nanti? Memang benar Allesha harus ikut mengurus ibunya. Tapi bukankah ia juga sibuk? Dan bukankah mengurus sesuatu itu butuh uang? Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Memang benar uang/harta tidak dibawa mati, tapi ketika hidup kita membutuhkan itu. Apa lagi jika kita mati dengan meninggalkan anak, tentu anak kita membutuhkan harta kita untuk keberlangsungan hidupnya.
Apa hidup Allesha hanya seputar itu? Untuk saat ini memang hanya itu. Yang Allesha pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar dia memiliki banyak harta secepatnya. Em… Maksudnya bagaimana dia bisa mendapatkan kekayaan sebelum diusia tua? Memang benar dulu ia bermimpi ingin menjadi tentara, dancer, atlet. Tapi semakin bertambahnya usia, bekerja apapun asal dapat uang. Alhasil ia melakukan berbagai pekerjaan, yang ia sukai tentunya. Lalu hasil dari pekerjaannya ia gunakan untuk investasi.
Tidak ada hal lain yang ia pikirkan, kepada orang tuanya saja kadang lupa apa lagi mengenai asmara. Kadang Allesha juga pernah merasa iri kepada teman-temannya yang telah memiliki kekasih. Tapi rasa iri itu hilang seketika saat melihat atau bahkan mendengar berita mengenai temannya atau pemuda yang terjerumus pergaulan sesat. Ditambah lagi ia pernah didatangi salah seorang tetangga yang hendak berhutang, karena mereka tidak bisa memberi anak-anak mereka makan. Untuk apa membantu mereka? Mereka sadar, kalau mereka miskin dan bodoh. Alih-alih bekerja keras dan belajar mereka malah menikah dan melahirkan banyak anak. Banyak anak banyak rezeki? Lebih tepatnya banyak rezeki yang harus dicari. Setiap anak ada rezekinya? Ya… Jika kau orang terkaya dimuka bumi, memiliki perusahaan, tambang, pabrik, tanah berhektar-herktar. Dan kau memiliki banyak anak maka hartamu itulah rezeki mereka.
Itulah kenapa Allesha sangat gila akan harta, juga pendidikan. Allesha ingin anak keturunannya cerdas, juga makmur. Agar anak keturunannya tak perlu susah-susah memikirkan pendidikan juga biayanya. Agak anak keturunannya tak mengalami hal yang ia atau orang lain alami.
Allesha sangat mencintai dirinya sendiri, setara akan cinta Tuhan terhadapnya. Tak ada yang mencintainya sedalam dia mencintai dirinya selain Tuhannya, bahkan mungkin juga ibunya. Ia berupaya agar hidupnya Damai. Meski ada masalah ia akan segera menyelesaikannya, pun ia tak akan membiarkan harinya menjadi muram hanya karena masalah yang belum selesai.
“Ya Allah Ya Tuhanku, engkau yang maha kaya, maka limpahkan kekayaan itu padaku. Ya Allah Ya Tuhanku, engkau yang maha pelindung, maka lindungilah aku. Ya Allah Ya Tuhanku, engkau yang maha Kuat dan sehat, maka kuatkan dan sehatkan aku dalam menjalani hidup ini.
itulah kalimat yang selalu Allesha ucapkan setiap sebelum tidur, sebelum beraktivitas, dan setelah ia beribadah. Do’a sekaligus ungkapan terimakasih atas semua yang telah Tuhan berikan.
Penulis : Aliza (Kontributor)
Editor: Jamal






