Awalan/Prolog
Seorang Gadis berumur 6 tahun, mendongak memandang polos seorang kakek yang terus memarahinya. “Main terus kamu, mau jadi apa nanti. Belajar sana, kamu itu anak perempuan, harusnya belajar, diam di rumah bukan main terus.” marah sang Kakek.
“Adik sepupu boleh bermain, kenapa aku tidak boleh?” tanya gadis kecil itu. Merasa diperlakukan tidak adil. Bukan hal yang pertama, itulah kenapa ia mulai memberanikan diri untuk mempertanyakan sikap keluarganya yang menurutnya tak adil, melarangnya bermain, tapi membiarkan sepupunya bermain.
“Adik sepupu mu itu masih kecil, dan dia juga laki-laki wajar kalau banyak main.” jawab si kakek. Begitulah wataknya, lebih menganak emaskan cucu laki-laki dibanding cucu perempuan. Mungkin sudah tradisi di masyarakat setempat, bahwa laki-laki lebih baik dari anak perempuan. Laki-laki bebas melakukan apapun, dan perempuan tidak boleh. Laki-laki boleh memilih sedangkan perempuan tidak. Sangat memuakkan.
Gadis kecil itu mengerjapkan matanya, tampak berfikir sejenak, “Apa bedanya? Aku dan Adik kan tak berbeda jauh usianya. Kenapa hanya anak laki-laki yang boleh banyak bermain? Kenapa anak perempuan tidak boleh? Kan sama-sama masih anak kecil.” Tukas gadis kecil itu.
“Jawab terus kamu kalau dikasih tahu. Sana masuk rumah, bebersih setelah itu tidur siang. Jangan ngebantah atau Ibu ikat kamu di pohon jati sampai malam, biar aja kamu dibawa genderuwo nantinya. Nakal banget jadi anak.” sahut wanita setengah baya, Ibu dari si gadis. Cepat-cepat ia sahut sebelum si Kakek semakin marah menghadapi putrinya yang sungguh luar biasa tingkahnya.
Gadis kecil itu pun akhirnya mengalah, bergontai memasuki rumahnya untuk membersihkan diri. “Ajari anakmu dengan benar, biar nggak jadi pembangkang nantinya.” ujar si Kakek pada wanita setengah baya, menantunya. Dan si menantu hanya bisa terdiam, pasrah dengan semua yang telah terjadi. Memang sudah menjadi tugasnya mendidik anak, tapi di sisi lain ia juga lelah menghadapi anaknya yang satu itu. Ditambah lagi dia tak selesai bersekolah dulu, dikarenakan dia terlahir dari keluarga yang tidak mampu, alhasil dia harus putus sekolah dan bekerja untuk membantu membiayai adik-adiknya.
“Ya Allah… Ada apa dengan anak bungsu ku? Kenapa dia sulit sekali diberi tahu? Kenapa dia selalu membantah? Berbeda dengan kakaknya. Kalau seperti ini bagaimana masa depannya nanti?” batin wanita separuh baya itu, bertanya, berkeluh kesah mengenai salah satu anaknya kepada Tuhan-nya.
Chapter 01
Jam 19.00 WIB
“Hai sha… Sedang menonton apa?” tanya seorang gadis remaja, menyapa adik sepupunya. Gadis kecil pemilik nama Allesha menengok ke arah kakak sepupunya, “Acara luar negeri, lagunya bagus. Dan lihatlah salah satu yang menyanyi rambutnya bisa berdiri tegak, lucu sekali,” jawabnya.
Sang Kakak sepupu melihat sejenak kearah televisi yang menyiarkan sebuah perform salah satu Idol Legendaris dari Korea Selatan 2ne1, “Lesha sudah belajar?” tanya kakak sepupunya lagi.
“Sudah tadi,” jawab gadis itu. “Tidak ingin belajar lagi kah? Ayo belajar lagi dengan kakak,” tanya serta ajak sang kakak sepupu. Pasalnya setiap ia berkunjung, ia hampir tak pernah melihat adik sepupunya yang satu itu berbelajar. Berbeda dengan saudarinya yang cukup rajin.
“Aku tidak mau belajar. Kata Bibi, Adiknya ibu, buat apa banyak belajar terus nanti juga bakal jadi ibu rumah tangga dan bakal berkutat terus didapur,” ujar Allesha. “Oh ya kata Bibi juga, perempuan nggak boleh terlalu pinter, karena nanti nggak akan ada laki-laki yang mau menikahi.” lanjut gadis kecil itu dengan polos.
“Kalau kamu bodoh nggak berpendidikan, gimana ngedidik anak-anak kamu?” tanya wanita paruh baya, Tantenya, ibu dari sepupunya. Dengan nada emosi, wanita paruh baya itu bertanya kepada sang keponakan. Tak habis fikir dengan kebodohan keluarga dari iparnya itu. “Eh kamu pikir jadi orang tua gampang apa? Kalau kamu nggak sekolah, nggak belajar ya nggak usah nikah, nggak usah bikin anak. Kamu nggak akan bisa nge didik anak, ngasih anak makan, & perawatan anak dengan baik kalau kamu nggak belajar. Liat Ibu mu, dia putus sekolah, apa bisa dia mengajarimu? Tidak kan, terbukti dari perkataanmu tadi betapa dangkalnya otaknya. Seharusnya jika ibumu tidak bisa lanjut sekolah, dia tidak membiarkanmu ikut hidup dalam kebodohan serta kedangkalan akalnya. Seharusnya ibumu bisa mencegah saudaranya untuk tidak mempengaruhi pikiran anaknya dengan hal buruk seperti itu. Ditambah anaknya masih kecil kayak kamu,” lanjut sang Tante penuh emosi.
“Bu…” Tegur putrinya guna menenangkan. Wanita paruh baya itu mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. “Belajar sana, biar nggak bodoh, jangan jadi beban.” tuturnya pada sang keponakan. Lalu ia pun pergi meninggalkan anak dan keponakannya, untuk mencari Ibu dari keponakannya, ia ingin membuat perhitungan dengan iparnya itu.
“Allesha… ” panggil sang kakak sepupu, membuyarkan lamunan Allesha. “Dengar ya dek, mau perempuan atau laki-laki, dia akan menikah atau tidak, dia akan memiliki anak atau tidak. Mereka tetap harus belajar, memacari ilmu, guna meraih cita-cita nya,” tuturnya kepada sang adik. “Allesha cita-cita nya ingin jadi apa? Allesha ingin seperti apa sih kehidupannya di masa depan?” lanjutnya bertanya dengan lembut pada sang adik.
Gadis itu termenung dalam diam, ia bingung harus bagaimana. “Em… Kak Nesha… Lesha ingin menjadi tentara, Lesha juga mau jadi penyanyi seperti yang di televisi tadi,” kata Allesha menatap Nesha, Kakak sepupunya. “Terus Allesha juga pengen bisa berantem-berantem kalau ada yang jahat sama Allesha. Aku pernah bilang ke Ibu, tapi tidak diperbolehkan, katanya itu tidak berguna didunia ataupun diakhirat. Terus kata nenek perempuan tidak pantas jadi tentara atau bisa berantem-berantem gitu.” lanjutnya dengan menundukkan kepalanya, sedih mengingat perkataan Ibu juga neneknya.
Nesha tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Yang dapat dia lakukan sekarang hanya menenangkan, dan memberi semangat kepada adik sepupunya itu. Ia tak dapat berbuat banyak, mengingat mereka hanya saudara sepupu. Bukan tanggungjawabnya mengurus adik sepupunya. Terlebih Allesha masih sangat belia. Jika sudah remaja dan legal, baru dia bisa membantu. Adik sepupunya itu juga pasti sudah paham apa yang harus dilakukan untuk masa depannya nanti.
“Allesha… Adik, dengar kakak. Untuk sekarang Lesha nurut dulu dengan orang tua, jika Lesha ingin sesuatu bicarakan baik-baik, “Ibu apa aku boleh melakukan ini? Bagaimana dengan yang itu?” jika tidak diperbolehkan tidak apa, biarkan saja, karena Lesha masih kecil, atau mungkin karena orang tua Lesha tidak sanggup mewujudkannya. Jadi untuk sementara waktu Lesha mengalah saja dulu, urungkan dulu niat itu. Jika usia Lesha sudah Legal, sudah lulus sekolah, dan bekerja baru Lesha pikirkan apa yang Lesha mau.” tutur Nesha menasihati adik sepupunya. “Allesha mengertikan?” tanya nya pada sang Adik.
“Eum…Â Allesha mengerti, tidak apa sekarang tidak bisa melakukan yang Allesha mau. Tapi nanti, jika Allesha sudah besar, sudah legal baru Allesha akan melakukan apapun yang Allesha mau. Allesha akan nekat melakukannya, terus melakukannya sampai Allesha berhasil dan sukses.” jawab Allesha penuh semangat dan tekat. Apapun yang terjadi, seperti apa rintangannya, jika kita bekerja keras dan memiliki semangat juga tekad yang kuat, percayalah semua akan berhasil mencapainya. Yang paling terpenting adalah kerja keras, do’a, dan konsisten dalam menjalani proses untuk mendapatkan hasil yang baik.
Penulis : Aliza (Kontributor)
Editor : Jamalulel






