LP2M CORONG(11/11/2025) – Kediri, 27 Oktober 2025 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) se-Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Dialog Progresif: Menumbuhkan Kesadaran Kritis dan Kolaboratif Mahasiswa FTK Menuju Gerakan Progresif”. Acara ini berlangsung di Aula Syariah UIT Lirboyo dan dihadiri oleh mahasiswa perwakilan dari seluruh HMPS serta beberapa ketua kosma.
Kegiatan dimulai pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.20 WIB. Seluruh rangkaian berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme. Dialog Progresif terbagi menjadi tiga sesi utama dengan tema berbeda: pengenalan HMPS, pembahasan isu kesadaran kritis, serta forum aspirasi mahasiswa.

Dalam sambutannya, Gubernur Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, M. Hadzik Bahaudin, menegaskan pentingnya peran BEM dan HMPS dalam struktur organisasi mahasiswa. “Badan Eksekutif Mahasiswa adalah organisasi di bawah dekanat. Dialog Progresif ini berfungsi untuk mengenalkan kepada seluruh mahasiswa agar lebih memahami apa itu HMPS dan bagaimana peranannya dalam kampus,” ujarnya.
Sesi pertama berfokus pada pengenalan setiap HMPS yang ada di FTK, yakni: Pendidikan Bahasa Indonesia (TBIN), Pendidikan Bahasa Inggris (TBING), Tadris Matematika (TM), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Dalam sesi ini, setiap ketua dan wakil HMPS menjelaskan struktur, program kerja, serta arah gerakan organisasi di masing-masing program studi.
Pada sesi kedua, para narasumber dari berbagai HMPS membahas tema besar “Menjawab Isu Kesadaran Kritis”. Ketua HMPS PAI, M. Zuhril Wafa, menyampaikan pandangannya: “Gagasan kritis muncul ketika mahasiswa menyadari adanya ketimpangan sosial. HMPS tidak hanya berperan dalam aspek akademik, tetapi juga harus peka terhadap problem nyata di masyarakat.”
Acara kemudian berlanjut ke forum aspirasi terbuka, yang menjadi sesi paling dinamis. Dalam forum ini, mahasiswa diberi ruang untuk menyampaikan pandangan dan bertukar gagasan dengan para ketua HMPS. Salah satu mahasiswa PAI semester 3 sempat mengajukan pertanyaan reflektif: “Bagi siapakah pemikiran kritis itu ditumbuhkan? Apakah untuk semua mahasiswa atau hanya anggota organisasi?”
Menanggapi hal itu, Ketua HMPS TBIN, M. Abidzar Maulana, menuturkan bahwa kesadaran kritis harus menjadi bagian dari seluruh mahasiswa, bukan hanya aktivis organisasi. “Semua orang dituntut untuk kritis. Namun di lingkungan kampus Tribakti, masih ada kesenjangan antara dunia pesantren dan kampus. Di pesantren, mahasiswa bebas berpikir kritis dalam Bahtsul Masail, tapi di kampus kadang dibatasi oleh aturan tertentu,” ujarnya.
Selain membahas kesadaran kritis, forum juga menyinggung tentang kolaborasi dan sinergi antarorganisasi mahasiswa FTK. Para peserta menyepakati bahwa gerakan mahasiswa yang progresif harus berlandaskan kerja sama lintas prodi dan kesadaran bersama untuk memperjuangkan nilai-nilai keilmuan serta sosial kemasyarakatan.
Dalam penutupan, Gubernur FTK menyambut positif berbagai usulan mahasiswa, termasuk rencana pelatihan public speaking yang diusulkan oleh mahasiswa TBI semester 3. “Masukan pelatihan public speaking diterima. Nanti akan segera diadakan, entah oleh siapa, nanti kita koordinasikan,” ungkapnya disambut tepuk tangan peserta.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang diskusi dan sosialisasi, tetapi juga sarana memperkuat identitas mahasiswa FTK sebagai agen perubahan. Melalui semangat dialog dan kolaborasi, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan gerakan mahasiswa yang progresif, kritis, dan berorientasi pada kemajuan fakultas dan masyarakat.
Penulis: Rose Kamalia






