Pada saat senja yang menghias cakrawala kala itu, Kania, seorang remaja, sedang berjalan menuju lantai satu karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB—waktunya pulang sekolah. Saat berjalan menuju tempat parkir, datanglah Dita yang mengajak Kania ke rumahnya karena akan ada pesta ulang tahunnya.
“Kania, nanti malam ke rumahku yuk, ada pesta ulang tahunku. Kita bisa bersenang-senang dan makan-makan bersama,” ajak Dita.
“Emmm, boleh deh Kak. Acara jam berapa? Terus, temanya apa?” jawab Kania.
“Acara mulai jam 19.00 WIB. Untuk baju, bebas pakai apa saja,” balas Dita.
“Ok, Kak,” sahut Kania.
“Kutunggu ya, jangan terlambat. Nanti jajanan dan makanannya keburu habis,” canda Dita.
Kania pulang naik motor sambil berpikir, Baju apa yang akan kupakai nanti malam? Sesampainya di rumah, Kania membuka lemari dan memilih gamis hitam lengan panjang serta jilbab hitam, ditambah aksesoris cincin di jarinya yang membuat penampilannya makin sempurna. Kania kemudian mandi dan merias diri dengan pakaian yang telah dipilih tadi.
Setelah melihat ke cermin dan memastikan semuanya terlihat sempurna, Kania berangkat menuju rumah Dita. Sesampainya di sana, Kania terlihat bingung karena tidak ada orang yang ia kenal. Ia pun mencari Dita, kakak kelas yang sangat dekat dengannya. Bahkan, mereka terlihat seperti saudara saat di sekolah. Dari kejauhan, terlihat Dita melambaikan tangan pada Kania, dan Kania langsung berlari menghampiri Dita.
“Mengapa kau terlihat pucat dan panik? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Dita.
“Entahlah, aku bingung. Soalnya nggak ada yang aku kenal di sini, jadi aku panik dan langsung lari menghampirimu saat kulihat kamu melambaikan tangan ke arahku,” jawab Kania.
“Apa?! Tidak ada yang kau kenal di sini?” tanya Dita dengan wajah terkejut.
“Iya, nggak ada yang aku kenal. Lagian, yang kamu undang kan hanya angkatanmu, dan aku nggak melihat tamu undangan yang seangkatan denganku,” balas Kania.
“Kalau begitu, ayo ikut aku. Akan kukenalkan kamu ke beberapa orang di sini,” kata Dita sambil tertawa.
Dita yang usil langsung menarik tangan Kania dan membawa ke beberapa kelompok temannya untuk mengenalkan Kania pada mereka. Mereka berhenti di sebuah kelompok terakhir yang terdiri dari laki-laki keren dan populer di angkatan Dita. Saat Kania diperkenalkan, Rehan, ketua kelompok yang terkenal pintar, keren, populer, dan cuek, tidak bisa memalingkan pandangannya dari Kania. Rehan tertarik pada Kania sejak pandangan pertama dan langsung mendekatinya untuk membuka pembicaraan. Dita yang menyadari hal itu, diam-diam meninggalkan Kania yang sedang berbicara dengan Rehan.
“Benarkah kamu Kania? Yang katanya adik kelas yang dekat dengan Dita sampai banyak orang mengira kalian saudara?” tanya Rehan.
“Iya benar, tapi aku baru tahu kalau banyak orang yang mengira aku saudara Dita,” jawab Kania.
“Kamu dari jurusan apa?” tanya Rehan lagi.
“Aku dari XI IPS 1. Ngomong-ngomong, nama kamu siapa? Aku sering melihatmu di sekolah dan kantin, tapi aku nggak kenal,” jawab Kania.
Dalam hati Rehan berpikir, Serius dia nggak mengenal aku? Padahal banyak adik kelas yang mengidolakan aku, dan aku sering juara lomba antar kelas bahkan sekolah.
“Serius kamu nggak mengenal aku?” sahut Rehan.
“Apa wajahku ini tampak seperti pembohong?” balas Kania dengan lirikan mata tajam dan alis mengerut.
Entah mengapa tatapan itu membuat Rehan semakin tertarik pada Kania, karena sebelumnya tidak ada perempuan yang berani menatapnya seperti itu.
“Baiklah, perkenalkan nama aku Rehan dari XII IPA 1. Senang berkenalan denganmu,” jawab Rehan sambil mengulurkan tangan.
Kania yang sedikit ragu akhirnya menerima jabatan tangan itu karena tidak ingin membuat Rehan tersinggung dengan menolaknya.
“Boleh minta IG kamu nggak?” tanya Rehan.
“Boleh,” sahut Kania.
Akhirnya mereka bertukar IG.
Kania yang menyadari Dita meninggalkannya langsung pergi mencari Dita yang ternyata berada di meja lain bersama teman-temannya. Mereka berpesta dan makan-makan hingga pukul 23.00 WIB. Kania yang menyadari waktu sudah larut, segera berpamitan pada Dita dan pulang. Sesampainya di kamar, Kania membuka IG-nya dan ternyata benar, Rehan menghubunginya. Mereka berbasa-basi cukup lama, dan yang mengejutkan, Rehan meminta nomor HP Kania, padahal Rehan terkenal tidak peduli pada perempuan. Kania yang mulai tertarik pada Rehan akhirnya memberikan nomor HP-nya. Mereka lalu melanjutkan obrolan di WA. Rehan yang semakin tertarik pada Kania akhirnya menelpon Kania hingga larut malam karena kebetulan besok libur.
Tak lama setelah mereka berkenalan, Rehan mengajak Kania untuk ngopi malam hari di puncak gunung.
“Kamu sibuk nggak besok malam?” tanya Rehan.
“Besok aku masih sibuk. Mungkin lusa aku ada waktu luang. Ada apa emangnya?” jawab Kania.
“Aku mau mengajakmu ngopi berdua di puncak gunung kalau kamu mau?” jawab Rehan.
“Boleh deh, aku juga butuh meluangkan waktu untuk meredakan stres,” sahut Kania.
Kania merasa hidupnya terasa sangat sempurna, bahkan ia merasa seperti bermimpi. Pada malam hari lusa, Rehan menjemput Kania. Meski sedikit grogi dan tidak yakin, Kania akhirnya berangkat ke pegunungan bersama Rehan untuk menghabiskan waktu berdua. Dinginnya angin malam membuat suasana semakin romantis. Indahnya bintang dan cahaya rembulan menemani perjalanan mereka. Sesampainya di sana, mereka mengobrol lebih dalam dan saling mengenal satu sama lain.
Perasaan dalam hati Kania tidak bisa dibohongi lagi. Dia menyukai Rehan, namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena takut merusak hubungan yang sudah terjalin sangat indah. Setelah menghabiskan waktu cukup lama, mereka pulang sambil melihat pemandangan kota yang indah dari pegunungan. Sesampainya di rumah, Kania berterima kasih kepada Rehan yang sudah mengajaknya menikmati pemandangan yang begitu indah.
Namun sayangnya, setelah beberapa bulan berkenalan, sikap Rehan pada Kania berubah. Rehan menjadi acuh dan tak peduli lagi pada Kania. Namun, Kania tetap perhatian pada Rehan. Ia sering membawakan jajanan, bahkan sesekali membawakan masakan yang ia buat sendiri dari rumah. Suatu ketika, Kania melihat Rehan makan berdua dengan seorang perempuan. Kejadian itu membuat Kania merasa terpukul, cemburu, dan sakit hati. Dita, yang menyadari perubahan sikap Kania yang tidak lagi ceria seperti biasanya, memberanikan diri bertanya.
“Kania, kamu kenapa? Belakangan ini kok nggak seperti biasanya yang ceria? Ada masalah apa? Cerita dong,” tanya Dita.
Tapi Kania tidak menjawab, malah bertanya, “Kak, menurutmu gimana menaruh perasaan cemburu pada seseorang yang dekat dengan kita tapi nggak ada hubungan?”
“Emangnya siapa yang membuatmu cemburu dan sakit hati?” jawab Dita dengan ekspresi terkejut.
“Ada deh, pokoknya aku nggak mau sebut nama. Biar kali ini hanya aku dan Tuhan yang tahu,” jawab Kania.
“Ya udah, kalau kamu nggak mau kasih tahu. Tapi kalau kamu masih mau memperjuangkan dia, ya kamu harus tanggung sendiri risikonya. Lagian masih banyak orang lain yang bisa menerima kamu selain dia,” kata Dita.
Kania merenung sejenak mendengar jawaban itu. Dalam batinnya ia berkata, Memang masih banyak yang lain, tapi tidak ada yang menurutku lebih spesial dari Rehan untuk saat ini. Apa aku coba bertahan saja ya, sampai dia mengungkapkan perasaannya padaku? Tanpa disadari, air mata menetes dari kedua matanya.
“Loh kok kamu nangis? Kamu yakin nggak apa-apa?” tanya Dita dengan nada cemas.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Kania.
Beberapa minggu berlalu, Kania mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian Rehan kembali, namun tidak ada perubahan. Hingga akhirnya, Kania lelah sendiri. Apa aku harus menjauh dari Rehan saja ya? Aku capek berusaha tapi nggak dihargai, dicuekin, dan didiemin terus kayak gini, gumam Kania dalam hati kecilnya.
Akhirnya, Kania memutuskan untuk mulai menjauhi Rehan meskipun ia sangat menyukainya. Dalam hatinya, Kania yakin bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya yang bersabar. Jika memang Rehan yang terbaik untuknya, ia percaya bahwa Rehan akan kembali dengan cara yang sudah ditentukan oleh Tuhan, meskipun ia berusaha menjauhi Rehan.
Hari demi hari berlalu, dan Kania mulai fokus pada dirinya sendiri. Ia menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang lebih produktif, seperti belajar, berkumpul dengan teman-temannya, dan mengikuti berbagai kegiatan di sekolah. Meski kadang hatinya masih merasakan sakit ketika melihat Rehan, Kania berusaha tegar dan tetap percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Suatu sore, ketika Kania sedang duduk sendirian di taman sekolah, Dita datang menghampirinya.
“Kania, bagaimana kabarmu sekarang? Sudah mulai membaik?” tanya Dita.
Kania tersenyum dan menjawab, “Ya, Kak. Aku merasa lebih baik sekarang. Aku sudah belajar untuk melepaskan.”
Dita tersenyum dan memeluk Kania. “Kamu kuat, Kania. Aku bangga melihatmu bisa melewati ini.”
Beberapa minggu kemudian, tanpa disangka, Rehan mendekati Kania saat jam istirahat.
“Kania, aku mau minta maaf. Aku sadar aku salah. Aku nggak seharusnya bersikap seperti itu sama kamu,” kata Rehan dengan nada serius.
Kania menatap Rehan sejenak, lalu tersenyum tipis. “Rehan, terima kasih atas permintaan maafmu, tapi aku sudah belajar bahwa tidak semua hal harus diperjuangkan terus-menerus. Kadang, kita harus merelakan demi kebaikan diri sendiri.”
Rehan tampak terkejut mendengar jawaban Kania, namun ia bisa melihat ketenangan dan kekuatan dalam diri Kania yang sekarang.
“Aku mengerti, Kania. Aku harap kita masih bisa berteman,” kata Rehan dengan nada menyesal.
“Tentu, kita masih bisa berteman, Rehan. Tapi, aku sudah memutuskan untuk melangkah maju,” jawab Kania dengan tegas.
Setelah pertemuan itu, Kania merasa lega. Ia telah melepaskan beban yang selama ini ada di hatinya. Meskipun masih ada rasa sayang yang tersisa, Kania yakin bahwa dirinya pantas mendapatkan seseorang yang benar-benar menghargai dan mencintainya dengan tulus.
Kania pun terus menjalani hidupnya dengan penuh semangat dan keyakinan bahwa masa depan akan membawa kebahagiaan yang lebih baik. Dia belajar bahwa mencintai diri sendiri dan menghargai kebahagiaannya adalah hal yang paling penting. Meskipun cinta tidak selalu berakhir seperti yang diharapkan, Kania tahu bahwa ia akan baik-baik saja.
Dan mungkin suatu hari nanti, seseorang yang lebih baik akan datang—seseorang yang tidak hanya mencintai, tetapi juga menghargai semua usahanya.
Tapi untuk saat ini, Kania sudah siap untuk melangkah maju, melepaskan yang tidak seharusnya ia pertahankan, dan membiarkan hidup berjalan dengan apa adanya.
Penulis: Khenyo Wahyuningtyas
Editor: Yhanik Wahyuning Ismawandari








